Rabu, Oktober 08, 2008

Menjadi Si-Wawa


Saya dipanggil Wawa.. Wawa itu panggilan manja untuk Uwa. Ya, ke-4 keponakan saya, panggil saya Wawa, karena saya kakaknya bunda mereka. Mereka adalah Yasmin, Kalina, Gisya dan Naila. Saya sayang banget sama mereka semua, melihat mereka seperti menyadarkan saya bahwa waktu berlalu sedemikan cepatnya dan menjadikan saya berintrospeksi.

Yasmin: anak Bunda Mia yang satu ini punya si mm, bantal kesayangan yang ga terpisahkan darinya. Kemarin, ketika libur lebaran Yasmin, Bunda, Kalin sama Papa Toni-nya nginep di rumah Aki. Yasmin selalu tidur dengan saya dan bantalnya. Ketika sehari sebelum pulang saya mengungkapkan ekspresi penyesalan saya karena Yasmin mau pulang kembali ke Jakarta:
“Yaaaaa, Teteh Yasmin pulang deh.. Wawa ga ada temen lagi deh..”
Tau apa yang Yasmin bilang?, dia bilang:
“Tapi Eneng (dia memanggil dirinya) ga akan ketinggalan si mm-nya kok..”
Wahduh, Yasmin tuh ga masalah pulang ninggalin Wawa, yang penting si mm ga ketinggalan..
Yasmin anak yang kritis, mungkin ngewarisin pinter bundanya. Bundanya cerita bagaimana Yasmin bertanya tentang apa itu nyawa, kenapa setiap benda punya nama sampai kenapa MSG itu bisa berbahaya, dan dia ga akan berhenti bertanya sampai dia mendapat jawaban atas pertanyaannya, dan yang bikin riweuh, pertanyaannya itu seringkali beranak cucu mengembang ke topik yang lain-lain. Dan hebatnya lagi, dia menyerap semua informasi yang dia dapat, dan kemudian ketika mendapatkan hal yang serupa dari yang lain, dia mampu menjelaskannya seperti yang dia dapat sebelumnya. Eh, Yasmin bilang Yasmin sayang sama Wawa, hmmm.. Wawa juga..

Kalin: adik Teteh Yasmin ini mungil banget, ketika Kalin lahir saya menunggui Bundanya di ruang bersalin, menemani Bundanya yang “ngenges” dan melihatnya keluar dari jalan lahir dengan tangisan yang tertahan. Meski mungil Ade Kalin ini lincah banget, ga bisa diem. Saya seneng bawa Kalin keluar rumah Aki dan liat ayam. Saya tersentuh sekali ketika Kalin menyenderkan kepalanya ke bahu saya, duuuh...

Gisya: dia nih anak paling heboh yang tomboy banget, ga takut apapun, lebih cowok dari anak laki-laki manapun. Segala sesuatu yang dia bisa naikin dia panjat ga peduli itu pohon, pagar, jendela, teralis atau apapun. Berlarian kesana kemari dengan celotehan yang lucu dan mengemaskan. Akhir-akhir ini dia selalu menampakkan sikap bermusuhan dengan saya, dia ga mau salim dan ga mau di sun, tapi selalu cari perhatian saya kalau ketemu. Gisya anak yang cerdas dan agak keras kepala, seringkali keukeuh dengan kemauannya. Dengan anak ini saya seringkali dibuat kagum ga berhenti-henti.

Naila: wooow.. anak ini cantiiiiiiikk banget.. Anaknya Bunda Ina yang satu ini memang lembut perangainya, kebalikan sama Teteh Gisya-nya yang meledak-ledak. Ketika lahir, Naila juga saya tungguin di Rumah Sakit, nemenin Bundanya dalam kesakitan mau melahirkan dan melihat Naila keluar dari perut bundanya. Saya tidak pernah berhenti mengagumi kecantikan bayi satu ini, luarrr biasa deh. Akhir-akhir ini saya agak sedih, karena Naila ga mau saya gendong, mungkin karena intensitas pertemuan saya sama Naila yang berkurang karena so sibuknya saya. Sebelumnya saya sempet deket dan biasanya kalau ketemu langsung minta digendong. Hiiikkks..

Itu dia keponakan-keponakan saya, anak-anak saya yang lain, selain Teteh dan Aa..

Teteh Yasmin, Ade Kalin, Teteh Gisya, Baby Naila.. Love u.. mmmmuuaaaccchhh..

Tidak ada komentar: