
Kadang kala saya merasa menjadi ibu yang buruk, saya dengan sengaja meninggalkan Teteh dan Aa berhari-hari, tidak melihat mereka menjelang tidurnya dan tidak melihat mereka ketika bangun. Melewatkan canda, manja, rengekan mereka di pagi hari adalah sebuah penganiayaan. Betapa harus ada yang dikorbankan untuk sebuah cita-cita.
Dalam keadaan ini, Teteh, adalah sahabat terbaik di seluruh jagat raya. Teteh adalah gadis kecil yang sangat pengertian, meski kadang ada nada protes dalam kalimatnya, tapi dia tetap supporter terbesar saya, rembulan terindah, terhebat yang akan selalu jadi senyum saya. Aa, hmm.. dia jagoan dari seluruh jagoan. Aa adalah sahabat yang cuek, yang memahami saya dengan caranya, inspirasi terbesar saya, matahari saya.
Mereka, dengan semua warna dirinya, membuat saya selalu “hidup”. Ciuman, pelukan dan bermanja canda dengan meraka adalah hal yang selalu saya rindukan kalau kami jauh.
Saya berjanji sama Teteh, dengan sungguh-sungguh dan dengan air mata kami yang turun dengan sendirinya, bahwa kami akan berkumpul suatu saat nanti, saya minta sama Teteh untuk bersabar selama dua tahun ke depan, setelah itu saya berjanji untuk menjadikan kami berkumpul tak terpisahkan dalam keadaan tak perlu khawatir soal apapun. Itu janji terbesar saya yang harus musti kudu saya tepati, apapun yang harus saya lakukan, saya akan lakukan untuk menjadikan itu kenyataan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar