
“..menjadi dewasa adalah sebuah pilihan..”
Sebagian dari kita, mungkin pernah mendengar ungkapan tersebut. Yuuuupp..! Dewasa adalah sebuah pilihan.. Saya memahami maknanya dalam sebuah kisah soulmate saya dengan pengalaman hidup yang cukup traumatis, tapi berhikmah..
Saya akan mengisahkan sebagian dari itu di sini.. Tetapi, supaya cukup fair untuk semua pelaku di dalamnya, maka saya terlebih dulu akan bilang bahwa setiap orang punya pembenaran, dalam versi saya inilah adanya kisah itu.. Kemudian, ketika kita berbicara tentang kedewasaan dalam bersikap, berpikir dan bertindak.. Kita akan merasa dewasa ketika berhadapan dengan orang yang tidak lebih dewasa dari kita.. Hmmm.. inilah yang terjadi dengan sahabat saya, kita sebut saja dia Reni.
Begini, Reni termasuk perempuan yang sebelumnya tidak percaya sama adanya cinta mati, cinta yang “Engkaulah Segalanya”, cinta di mana seluruh energi tercurah ke dalamnya.. Sebagian perempuan mungkin akan merasa beruntung dapat dicintai seperti itu, tapi Reni dan saya, termasuk yang sengak dengan cinta model begituan. Cinta dalam persepsi Kami, tidak boleh memaksa, tidak boleh mengancam, tidak boleh melakukan penekanan, meskipun katanya untuk alasan kebaikan.. kebaikan..??? kebaikan dalam pandangan siapa..?? huuuhhh.. (saya benci sekali dengan orang yang merasa punya otoritas akan kebenaran..)
Ketika situasi terasa makin tidak nyaman, Sang Sahabat memutuskan untuk pergi dan menjadi sendiri. Si Yanto, sang obsesif kompulsif.. yang mengaku bahwa Reni telah mengaliri seluruh urat nadinya dan betapa maha hebatnya cinta yang dia miliki untuk Reni serta mengaku bahwa Reni merupakan perempuan terpantas untuk dia cintai, tidak terima begitu saja keputusan itu. Banyak hal bodoh dia lakukan, entah untuk tujuan supaya Reni dapat kembali atau dendam (saya cenderung menganggap untuk alasan dendam). Tindakan konyol dan bodohnya mulai dari trespassing account email-nya si Reni dan melakukan pengancaman, bahkan sampai mengancam membunuh ke orang yang sedang berusaha dekat dengan Reni. Kemudian kirim email ke beberapa teman Reni dengan foto mersa mereka berdua (mulai dari yang tidak sangat mesra, hanya muka yang sedikit menempel satu sama lain sampai foto yang agak harus tersensor), saya termasuk salah satu yang dia kirimi, dia memang tidak menggunakan ID biasa yang saya kenal, tetapi siapa juga yang iseng.. selain dia.. dasar bodoh..!! (uffffsss..).
Percaya atau tidak, kekonyolan tidak berhenti sampai di situ, dia kemudian meminta kembali barang-barang yang pernah dia kasih ke Reni (duuuh, laki-laki apa bukan seeeehhhh..!!??). masih banyak hal stupid lain yang si yanto buat, tapi saya males crita lagi ah.. Terlalu memalukan, untuk di share di sini.. Dan.. jadi tidak dewasa kalo saya menceritakannya di sini sedemikian banyak.. hehehe..
Naah.. Di situlah, Saya dan Reni, ngerasa beruntung menjadi lebih dewasa dari si Yanto, meski Kami terajari melalui pengalaman pahit, di situlah Kami menemukan menjadi dewasa itu adalah sebuah pilihan..
Satu lagi, Si Reni-ku itu, ternyata sama sekali tidak mendendam.. setelah semua yang terjadi, kini Reni sedang berusaha menemukan kebahagiaannya, menemukan cintanya.. Tapi kata si Reni, dirinya masih ngrasa terteror kalau mendengar nama si Yanto disebut atau bahkan ketika dengan tidak sengaja mengingat sang psikopat.. Si Reni berharap tidak lagi pernah akan dipertemukan dengan si Yanto. Amin Ren..
Sudah Saatnya Reni menemukan kebahagiaannya kini, cinta dengan rasa yang sebenarnya, tidak pura-pura, tidak atas dasar pertimbangan berterimakasih karena telah dikagumi dan dicintai sekian lama. Kini, Reni punya masa depan, saya melihat dia banyak berubah, menjadi lebih sumringah dan tampak sangat thankful n grateful..
“ Selamat ya Jeng..”
Love you..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar