Selasa, Oktober 14, 2008

Hmmmh..


Entah kenapa, siang ini tuh senduuuu banget.. Rasanya ada yang kosong di dalam sini..

Rabu, Oktober 08, 2008

Menjadi Si-Wawa


Saya dipanggil Wawa.. Wawa itu panggilan manja untuk Uwa. Ya, ke-4 keponakan saya, panggil saya Wawa, karena saya kakaknya bunda mereka. Mereka adalah Yasmin, Kalina, Gisya dan Naila. Saya sayang banget sama mereka semua, melihat mereka seperti menyadarkan saya bahwa waktu berlalu sedemikan cepatnya dan menjadikan saya berintrospeksi.

Yasmin: anak Bunda Mia yang satu ini punya si mm, bantal kesayangan yang ga terpisahkan darinya. Kemarin, ketika libur lebaran Yasmin, Bunda, Kalin sama Papa Toni-nya nginep di rumah Aki. Yasmin selalu tidur dengan saya dan bantalnya. Ketika sehari sebelum pulang saya mengungkapkan ekspresi penyesalan saya karena Yasmin mau pulang kembali ke Jakarta:
“Yaaaaa, Teteh Yasmin pulang deh.. Wawa ga ada temen lagi deh..”
Tau apa yang Yasmin bilang?, dia bilang:
“Tapi Eneng (dia memanggil dirinya) ga akan ketinggalan si mm-nya kok..”
Wahduh, Yasmin tuh ga masalah pulang ninggalin Wawa, yang penting si mm ga ketinggalan..
Yasmin anak yang kritis, mungkin ngewarisin pinter bundanya. Bundanya cerita bagaimana Yasmin bertanya tentang apa itu nyawa, kenapa setiap benda punya nama sampai kenapa MSG itu bisa berbahaya, dan dia ga akan berhenti bertanya sampai dia mendapat jawaban atas pertanyaannya, dan yang bikin riweuh, pertanyaannya itu seringkali beranak cucu mengembang ke topik yang lain-lain. Dan hebatnya lagi, dia menyerap semua informasi yang dia dapat, dan kemudian ketika mendapatkan hal yang serupa dari yang lain, dia mampu menjelaskannya seperti yang dia dapat sebelumnya. Eh, Yasmin bilang Yasmin sayang sama Wawa, hmmm.. Wawa juga..

Kalin: adik Teteh Yasmin ini mungil banget, ketika Kalin lahir saya menunggui Bundanya di ruang bersalin, menemani Bundanya yang “ngenges” dan melihatnya keluar dari jalan lahir dengan tangisan yang tertahan. Meski mungil Ade Kalin ini lincah banget, ga bisa diem. Saya seneng bawa Kalin keluar rumah Aki dan liat ayam. Saya tersentuh sekali ketika Kalin menyenderkan kepalanya ke bahu saya, duuuh...

Gisya: dia nih anak paling heboh yang tomboy banget, ga takut apapun, lebih cowok dari anak laki-laki manapun. Segala sesuatu yang dia bisa naikin dia panjat ga peduli itu pohon, pagar, jendela, teralis atau apapun. Berlarian kesana kemari dengan celotehan yang lucu dan mengemaskan. Akhir-akhir ini dia selalu menampakkan sikap bermusuhan dengan saya, dia ga mau salim dan ga mau di sun, tapi selalu cari perhatian saya kalau ketemu. Gisya anak yang cerdas dan agak keras kepala, seringkali keukeuh dengan kemauannya. Dengan anak ini saya seringkali dibuat kagum ga berhenti-henti.

Naila: wooow.. anak ini cantiiiiiiikk banget.. Anaknya Bunda Ina yang satu ini memang lembut perangainya, kebalikan sama Teteh Gisya-nya yang meledak-ledak. Ketika lahir, Naila juga saya tungguin di Rumah Sakit, nemenin Bundanya dalam kesakitan mau melahirkan dan melihat Naila keluar dari perut bundanya. Saya tidak pernah berhenti mengagumi kecantikan bayi satu ini, luarrr biasa deh. Akhir-akhir ini saya agak sedih, karena Naila ga mau saya gendong, mungkin karena intensitas pertemuan saya sama Naila yang berkurang karena so sibuknya saya. Sebelumnya saya sempet deket dan biasanya kalau ketemu langsung minta digendong. Hiiikkks..

Itu dia keponakan-keponakan saya, anak-anak saya yang lain, selain Teteh dan Aa..

Teteh Yasmin, Ade Kalin, Teteh Gisya, Baby Naila.. Love u.. mmmmuuaaaccchhh..

Rumah


Sudah beberapa hari belakangan ini, saya senang browsing hal-hal yang berbau design interior, layout rumah, lanskap dan situs lain yang berhubungan. Bahkan saya ngoprek majalah lama dengan tema yang sama. Banyak hal dalam benak saya terancang ketika melihat semua tersebut, ada banyak hal yang ingin saya wujudkan, ada rumah yang saya idealkan untuk saya bangun. Suatu hari nanti, saya akan punya.

Rumah itu, adanya di tepi jalan dengan halaman yang luas. Ada banyak pohon, bunga dan tanaman di sana, ada rumput hijau yang basah ketika pagi hari. Rumahnya agak menjorok ke dalam, dengan luas yang ga besar, cukup untuk seluruh penghuni yang ada. Setiap anak mempunyai satu kamar yang menjadi otoritas dan privasinya. Ada banyak rak dengan buku-buku yang bisa mencerahkan kami penghuninya, ada mushola kecil tempat kami berkumpul setelah maghrib, ada ruang keluarga tempat kami bercengkrama setelah makan malam.

Yang lebih penting dari semuanya, rumah itu harus punya daya tarik untuk kami, daya yang dapat menarik kami untuk selalu pulang setelah setinggi apapun kami terbang. Rumah yang menjadi tempat kami mencari sejuk setelah seharian bergelut dengan keriuhan.

Janji


Kadang kala saya merasa menjadi ibu yang buruk, saya dengan sengaja meninggalkan Teteh dan Aa berhari-hari, tidak melihat mereka menjelang tidurnya dan tidak melihat mereka ketika bangun. Melewatkan canda, manja, rengekan mereka di pagi hari adalah sebuah penganiayaan. Betapa harus ada yang dikorbankan untuk sebuah cita-cita.

Dalam keadaan ini, Teteh, adalah sahabat terbaik di seluruh jagat raya. Teteh adalah gadis kecil yang sangat pengertian, meski kadang ada nada protes dalam kalimatnya, tapi dia tetap supporter terbesar saya, rembulan terindah, terhebat yang akan selalu jadi senyum saya. Aa, hmm.. dia jagoan dari seluruh jagoan. Aa adalah sahabat yang cuek, yang memahami saya dengan caranya, inspirasi terbesar saya, matahari saya.
Mereka, dengan semua warna dirinya, membuat saya selalu “hidup”. Ciuman, pelukan dan bermanja canda dengan meraka adalah hal yang selalu saya rindukan kalau kami jauh.

Saya berjanji sama Teteh, dengan sungguh-sungguh dan dengan air mata kami yang turun dengan sendirinya, bahwa kami akan berkumpul suatu saat nanti, saya minta sama Teteh untuk bersabar selama dua tahun ke depan, setelah itu saya berjanji untuk menjadikan kami berkumpul tak terpisahkan dalam keadaan tak perlu khawatir soal apapun. Itu janji terbesar saya yang harus musti kudu saya tepati, apapun yang harus saya lakukan, saya akan lakukan untuk menjadikan itu kenyataan.

Berproses menjadi Mandiri..


Mandiri secara finansial.. Mandiri dalam hal ini, menurut saya adalah kondisi yang menjadikan posisi tawar saya lebih baik, membuat saya tidak harus menjadi siapa-siapa kecuali diri sendiri. Kemandirian finansial adalah sebuah harga mati, kondisi yang sepenuhnya harus saya raih. Saya sedang berproses untuk menjadi mandiri. Saya sangat menginginkan kemandirian itu untuk personal saya dan untuk anak-anak saya.

Saya pernah sangat bergantung dengan orang, kemudian saya tersadar bahwa kondisi seperti itu menjadikan saya merasa tidak berguna dan terhinakan. Saya yakin seyakin-yakinnya ga ada niatan orang itu menghinakan saya, tetapi saya merasa bahwa saya hanya menjadi beban orang lain, menjadi ga punya suara untuk bilang yang sebenarnya tentang perasaan saya. Keadaan itu menjadikan saya merasa tidak berharga.

Berusaha menjadi mandiri juga tidak mudah ternyata dan sejauh ini saya masih jalan di tempat. Sempet ngerasa hampir menyerah dan hampir memutuskan mengambil jalan pendek yang mudah dengan resiko terbebani secara moral. Tapi kemudian saya tersadar bahwa adalah penting menghargai keberadaan diri sendiri, menghargai potensi yang ada dalam diri sendiri. Saya tau saya punya banyak hal yang bisa menjadikan saya seseorang. Saya yakin, ada yang menginginkan kriteria saya di luar sana. Hanya saja kami masih belum saling menemukan. Pekerjaan yang sesuai untuk saya, yang potensial menghasilkan kemandirian finansial sedang saya usahakan dengan maksimal, dengan segenap niat, tekad dan usaha saya. Sekali lagi, saya sedang berproses.

Muara dari hasil berproses saya ini adalah keinginan saya untuk dapat selalu tidak terpisahkan dengan anak-anak saya dalam ‘rumah’ kami. Saya tau dengan pasti hati kami bertiga menyatu dalam relung terdalam kami masing-masing, terpaut erat satu sama lain sampai kapanpun, karena darah yang mengalir dalam kami adalah sama. Tapi secara fisik, saya belum dapat menyatukan kami. Saya yakin (dan berusaha menyakinkan diri) bahwa kami akan dapat bersama secara utuh lahir batin sampai saatnya nanti mereka dewasa dan memutuskan untuk mandiri, terpisah dengan mama-nya. Dan.. kalau saya beruntung, mungkin juga akan ada seseorang, sang titanium, yang akan jadi pelengkap hidup saya, yang menjadikan saya komplit.

Senin, Oktober 06, 2008

Rumah


Saya punya mimpi, punya harapan dan cita-cita. Mimpi saya sederhana, saya ingin punya “rumah” tempat saya pulang. Ya, rumah dalam arti fisik dan kiasan, rumah tempat keduanya. Rumah tempat adanya cinta dan semua keriuhan. Rumah yang tidak harus besar, tapi penghuninya selalu belajar untuk berhati besar. Ada anak-anak dengan semua warnanya, ada seseorang yang setiap kali saya bangun di pagi hari, dia, menjadi yang pertama saya lihat.

Berdoa, berharap, berusaha.. biarkan Sang Maha yang menjadikan..

Titanium


Perkenalan yang unik, pertemuan yang tidak biasa, kegehelan yang terjadi, kisah hidup yang luar biasa dan kecerdasan yang natural adalah dia di mata saya. Semua keunikan, semua hal yang tidak biasa, semua kenikmatan yang tercipta, semua kisah yang terurai, semua adanya dia adalah napas bagi saya.

Waktu berlalu, saling mengenal lebih baik.. ekspresi marahnya, kebiasaannya, kesehariannya, prinsip hidupnya, komitmennya, kesungguhannya dan cintanya menjadi belantara yang layak untuk dijelajahi. Menjadi arena pembelajaran hidup yang berharga. Membuat saya menjadi pribadi yang lebih matang, lebih mengenali diri sendiri, lebih humanis, lebih yakin untuk menjalani hidup dengan harapan yang realistis.

Dengan segala baik dan kurangnya, dengan manis dan pahitnya, dengan lembut dan kerasnya, dengan ketegaran dan kemanjaannya, sangat ingin melalui sisa hari dengan kebersamaan. Dengan kesadaran bahwa semua tidak akan selalu manis, menjalani ini adalah sebuah keindahan, sebuah kebahagiaan yang tidak dapat ditukar dengan apapun.

Lebaran tanpa Matahari



Bagaimana rasanya berlebaran tanpa anak-anak kita..?
Saya tau banget bagaimana itu rasanya.. Sedih dengan sedalam-dalamnya sedih.. Aaah.. Susah mengungkapkan perasaan sedihnya seperti apa, yang pasti berasa ada yang hilang dan kosong dalam diri saya.

Sejak awal Ramadhan ini, rencana untuk lebaran dengan keluarga ayah-nya anak-anak di Jakarta sudah mengemuka, mulanya anak-anak antusias trus kemudian menjelang dekat hari keberangkatan Teteh n Aa menjadi agak ragu dan sempet SMS ayah-nya bahwa mereka ga akan jadi lebaran di Andung, tapi kemudian mereka pergi juga setelah ada negosiasi dengan ayah-nya dan sedikit bujukan dari saya.

Kalau mengikuti kata hati, saya inginnya berlebaran dengan mereka, tapi ada banyak hal yang harus saya kompromikan dengan ayahnya. Bagaimanapun, saya mengerti dan memahami keinginan ayahnya untuk dapat berlebaran dengan anak-anaknya, mempertemukan Teteh n Aa dengan saudara-saudaranya. Makanya, ketika niat berlebaran Teteh di Jakarta mulai mengendur, saya berusaha membujuk Teteh untuk pergi.
Saatnya mereka pergi, rasanya sepi.. tidak ada rengekan Aa juga ga ada curhatan Teteh. Rasanya keberadaan saya menjadi tidak berarti tanpa mereka.

Miz u, Teh.. Miz u, A..

Kelompok Mahluk Ajaib



Menurut saya, mahluk paling ajaib yang pernah diciptakan Tuhan itu adalah laki-laki.. Bukan dinosaurus (kalau dinosaurus itu memang pernah diciptakan), bukan nautilus, belangkas atau yang lainnya. Hmmm.. Tidak bermaksud kasar membandingkan mereka dengan sarkasme seperti itu, hanya sedikit menegaskan bahwa apapun mahluk yang bisa disebut ajaib, dalam pandangan saya, mereka super-duper-zuper-nya ajaib.

Mereka sulit dipahami, itu mungkin yang menyebabkan saya berpikir bahwa mereka itu mahluk ajaib. Menurut pengalaman saya, dari beberapa intreraksi personal dan banyak relasi pertemanan yang saya jalin, banyak hal saya alami dan kemudian saya mendapat hikmah darinya. Meski dari jenis mereka yang paling brengsek sekalipun, selalu ada pelajaran yang bisa diambil.

Satu hal yang khas dari mereka adalah proses berpikir dalam pengambilan keputusan yang cenderung praktis dengan alasan logik. Pertimbangan dan penalaran mereka cenderung terarah pada penyelesaian yang berorientasi pada kenyataan. Satu hal yang jarang jadi pertimbangan pada pengambilan keputusan oleh perempuan, yang cenderung fragmatis dan emosional. Cara “cowok” tersebut, menurut saya tidak selalu baik, karena ada banyak hal dalam hidup yang tidak hanya memerlukan alasan logis untuk sesuatu, tapi juga alasan hati.. Wahduuh, susah deh kalo dah ngomong yang satu ini.. Lewat aja yuuukk..

Banyak tipe laki-laki, dalam rumusan saya mereka secara umum dapat di kelompokkan ke dalam 3 jenis, yaitu jenis yang baik, dapat diterima dan brengsek. Jenis yang baik memiliki nilai-nilai positif dalam dirinya yang dia aktualisasikan dalam tingkah laku kesehariannya. Jenis ini memiliki simpati dan empati yang sangat besar dan ketika kita ngobrol dan mulai pembicaraan dengannya, kita akan merasa tercerahkan dan nyaman. Laki-laki pada kelompok ini, bukan laki-laki yang sempurna, karena memang saya yakin tidak ada laki-laki yang sempurna, tetapi laki-laki yang bisa memberikan rasa aman. Religiusitas memiliki peranan di sini, tetapi tidak selalu banding lurus. Karena saya pernah menemukan seseorang yang sangat religious, puasanya selang hari (puasa daud), tahajudnya ga pernah lewat, semua dalam agama dia lakukan kecuali memperlakukan istrinya dengan semestinya. Kalau dia menampar, menghina, mempermalukan istri dengan alasan apapun, dia masuk dalam jenis lain, yaitu laki-laki brengsek.

Jenis kedua adalah jenis yang dapat diterima, mereka dalam kelompok ini adalah mereka yang berjenis baik, tetapi dengan ego yang besar dan cenderung tidak peduli dengan sekelilingnya, yang ada dalam dia adalah aku, aku dan aku. Dengan kesabaran dan kemauan kita untuk berkompromi, mereka dalam jenis ini cukup menyenangkan untuk dijadikan teman.

Jenis ketiga adalah jenis brengsek, mereka dalam tipe ini cenderung licik, menggunakan kedok agama sebagai wajahnya dan manipulatif dengan kepribadian yang pesimistik, schizoid, pasif, anti-sosial, abulia, obsesif-kompulsif dan inadequate. Yang paling menyebalkan dari dari semua kepribadiannya itu adalah inadequate, dimana laki-laki jenis ini seringkali tidak memenuhi harapan orang di sekelilingnya terhadap tuntutan emosional, intelektual, sosial dan fisik. Kondisi ini akan diperparah dengan perasaan bahwa hal minus dirinya itu adalah wajar dan tidak dapat terelakan.. duuuh.. laki-laki jenis ini cukup hanya kita kenal saja, tidak untuk intens berkomunikasi karena akan sangat melelahkan dan ga bermanfaat. Balik kanan dan bye-bye..

Di atas semuanya, memahami siapapun (laki-laki atau perempuan, anak atau orang tua, teman atau kenalan) tidak mudah. Tulisan ini tidak bermaksud so tahu, lebih hanya ingin mencoba menulis apa yang dirasakan.

"Nyaman n Aman"



“Beriman itu sederhana saja, ketika kita aman dengan Tuhan kita dan orang lain di sekitar kita juga aman karenanya”

Hmmm.. kalimat di atas dan kalimat-kalimat bijak yang saya tulis kemudian, saya kutip dari buku-nya Wisnu Prayuda, The Secret of Meaningful Life. Sebuah buku yang mencerahkan..

Iman, Hmmmhhh.. topik berat ya..?! menurut saya iya, ketika kita berbicara tentang Iman dan deretan teman-temannya, saya menjadi merasa sedang membicarakan surga dan neraka.. Dan seolah itu adalah topik bagi orang-orang khusus dengan ilmu kitab yang luas..

Tetapi, setelah membaca buku itu, saya menjadi merasa sangat ringan.. yuuuuk, kita ngobrol tentang Iman..

Saya tidak akan memulai obrolan iman ini dengan arti harfiah atau bahasa atau sejarah dll.. Di samping karena memang pemahaman dan pengetahuan saya yang terbatas, saya juga tidak mau terjebak dalam kebermaknaan bahasa dan arti iman, kita langsung ke hal riil saja, keseharian kita, sesuatu yang setiap saat kita akrabi, implementasi nyata..

Menjadi orang yang beriman harus dimulai dengan membereskan diri sendiri. Mengenali dan menemukan siapa diri kita. Sederhana, mengenali diri lebih dalam dengan memahami kehadiran kita pada lingkungan dimana kita berada. Apakah kita telah memberi rasa aman atau malah rasa takut.

Menurut Prof. dr. Komaruddin Hidayat, iman itu sungguh ada kaitannya dengan rasa aman. Mukmin (orang yang beriman) itu akan merasa tenang, nyaman dan aman karena selalu bersama Allah dan orang yang memberikan rasa nyaman dan aman pada orang yang di sekelilingnya.Untuk point pertama, akan saya lewat untuk dibocarakan, karena sangat personal antara Tuhan dengan individu umat-Nya.

Naah.. yang kedua ini, berhubungan dengan relasi antar manusia.. saya senang dengan topik kemanusiaan dan relasinya.. hubungan manusia dengan manusia sangat misterius dan kompleks..

Kalau iman itu berkorelasi erat denga rasa nyaman dan aman yang mampu kita ciptakan untuk orang lain di sekitar kita, hmmm.. rasanya tidak terlalu ribet ya, kita dapat mengklaim diri seorang mukmin dengan penuh PD.. Yaaa, tidak juga se-simple itu memang, tapi bisa dimulai dengan hal kecil. Misalnya, dengan bersikap menyenangkan kepada setiap yang kita temui, menolong siapapun sesuai kemampuan kita dengan penuh keikhlasan dan berusaha untuk membuat siapapun yang dekat dengan kita merasa nyaman dengan keberadaan kita, kalau Amah (Ibu saya) bilang:

“Sing tiasa mihapekeun diri..”

Yaaa.. Leres Mah.. Satujuuuu..!

Yuuuukk..

Belajar menjadi Dewasa..


“..menjadi dewasa adalah sebuah pilihan..”

Sebagian dari kita, mungkin pernah mendengar ungkapan tersebut. Yuuuupp..! Dewasa adalah sebuah pilihan.. Saya memahami maknanya dalam sebuah kisah soulmate saya dengan pengalaman hidup yang cukup traumatis, tapi berhikmah..

Saya akan mengisahkan sebagian dari itu di sini.. Tetapi, supaya cukup fair untuk semua pelaku di dalamnya, maka saya terlebih dulu akan bilang bahwa setiap orang punya pembenaran, dalam versi saya inilah adanya kisah itu.. Kemudian, ketika kita berbicara tentang kedewasaan dalam bersikap, berpikir dan bertindak.. Kita akan merasa dewasa ketika berhadapan dengan orang yang tidak lebih dewasa dari kita.. Hmmm.. inilah yang terjadi dengan sahabat saya, kita sebut saja dia Reni.

Begini, Reni termasuk perempuan yang sebelumnya tidak percaya sama adanya cinta mati, cinta yang “Engkaulah Segalanya”, cinta di mana seluruh energi tercurah ke dalamnya.. Sebagian perempuan mungkin akan merasa beruntung dapat dicintai seperti itu, tapi Reni dan saya, termasuk yang sengak dengan cinta model begituan. Cinta dalam persepsi Kami, tidak boleh memaksa, tidak boleh mengancam, tidak boleh melakukan penekanan, meskipun katanya untuk alasan kebaikan.. kebaikan..??? kebaikan dalam pandangan siapa..?? huuuhhh.. (saya benci sekali dengan orang yang merasa punya otoritas akan kebenaran..)

Ketika situasi terasa makin tidak nyaman, Sang Sahabat memutuskan untuk pergi dan menjadi sendiri. Si Yanto, sang obsesif kompulsif.. yang mengaku bahwa Reni telah mengaliri seluruh urat nadinya dan betapa maha hebatnya cinta yang dia miliki untuk Reni serta mengaku bahwa Reni merupakan perempuan terpantas untuk dia cintai, tidak terima begitu saja keputusan itu. Banyak hal bodoh dia lakukan, entah untuk tujuan supaya Reni dapat kembali atau dendam (saya cenderung menganggap untuk alasan dendam). Tindakan konyol dan bodohnya mulai dari trespassing account email-nya si Reni dan melakukan pengancaman, bahkan sampai mengancam membunuh ke orang yang sedang berusaha dekat dengan Reni. Kemudian kirim email ke beberapa teman Reni dengan foto mersa mereka berdua (mulai dari yang tidak sangat mesra, hanya muka yang sedikit menempel satu sama lain sampai foto yang agak harus tersensor), saya termasuk salah satu yang dia kirimi, dia memang tidak menggunakan ID biasa yang saya kenal, tetapi siapa juga yang iseng.. selain dia.. dasar bodoh..!! (uffffsss..).

Percaya atau tidak, kekonyolan tidak berhenti sampai di situ, dia kemudian meminta kembali barang-barang yang pernah dia kasih ke Reni (duuuh, laki-laki apa bukan seeeehhhh..!!??). masih banyak hal stupid lain yang si yanto buat, tapi saya males crita lagi ah.. Terlalu memalukan, untuk di share di sini.. Dan.. jadi tidak dewasa kalo saya menceritakannya di sini sedemikian banyak.. hehehe..

Naah.. Di situlah, Saya dan Reni, ngerasa beruntung menjadi lebih dewasa dari si Yanto, meski Kami terajari melalui pengalaman pahit, di situlah Kami menemukan menjadi dewasa itu adalah sebuah pilihan..

Satu lagi, Si Reni-ku itu, ternyata sama sekali tidak mendendam.. setelah semua yang terjadi, kini Reni sedang berusaha menemukan kebahagiaannya, menemukan cintanya.. Tapi kata si Reni, dirinya masih ngrasa terteror kalau mendengar nama si Yanto disebut atau bahkan ketika dengan tidak sengaja mengingat sang psikopat.. Si Reni berharap tidak lagi pernah akan dipertemukan dengan si Yanto. Amin Ren..

Sudah Saatnya Reni menemukan kebahagiaannya kini, cinta dengan rasa yang sebenarnya, tidak pura-pura, tidak atas dasar pertimbangan berterimakasih karena telah dikagumi dan dicintai sekian lama. Kini, Reni punya masa depan, saya melihat dia banyak berubah, menjadi lebih sumringah dan tampak sangat thankful n grateful..

“ Selamat ya Jeng..”

Love you..