Teringat kejadian tiga hari yang lalu, dimana pagi dimulai dimulai dengan tertegun mendapati BBM seorang teman baik. Betapa tertekannya dia, ketika suaminya melarang bergaul dengan teman-temannya, berkomunikasi dengan masa lalunya, mengatur semua detail kehidupan sang istri. Yang menggelikan sampai harus melapor sudah sampai kantor, pulang kantor, sedang apa, dimana dan sama siapa?. Teman saya sangat tertekan, karena harus sembunyi-sembunyi kalau mau sms-an teman lain, harus segera menghapusnya jika tidak ingin ada keributan, harus selalu lapor, tidak boleh ini dan itu. Dia terlihat tidak bahagia.
Seharusnya menikah itu membahagiakan, bukan? Dimana satu pihak menghargai yang lain, dimana hak-hak personal tetap melekat dalam diri pasangannya, dan tidak bisa dirampas, dengan alasan apapun. Seharusnya menikah itu tidak membuat seseorang menjadi tidak merdeka. Legalitas sebagai suami tidak membuat dia (suami) menjadi punya otoritas atas kita, tubuh kita dan pikiran kita.
Budaya patriarki, membenarkan dominasi suami atas istri. Agama juga menjadi justifikasi atas kekuasaan ini. Lembaga pernikahan menjadi pembenaran untuk terampasnya hak individu si istri. Istri adalah milik suami, begitu katanya. Mengubah anggapan ini, yang sudah melekat sedemikian mengakar dalam kultur kita, jelas tidak mudah. Menjadikan kaum laki-laki teredukasi dan sadar bahwa istri adalah mitra, sahabat, teman, partner sejajar-seimbang-setara menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Dalam banyak kasus menghadapi laki-laki kategori ini, perempuan memilih tidak bersuara, karena tidak berdaya dalam satu atau banyak hal. Ketergantungan finansial kepada suami menjadi faktor yang seringkali menyebabkan perempuan tidak punya pilihan lain selain menurutinya. Memikirkan bahwa jika menentang apa yang diharuskan suami, maka bagaimana dia hidup?. Belum lagi memikirkan kemungkinan anggapan orang lain. Betapa malangnya menjadi perempuan dalam budaya superioritas laki-laki.
Perempuan, Anda berhak atas kemerdekaan individu Anda. Sesungguhnya, jenis kelamin tidak membuat seseorang menjadi dapat lebih berkuasa atas yang lain atau lebih hebat. Jenis kelamin boleh membedakan peran yang diambil, tapi tidak hak atas diri sendiri. Itu melekat atas individu, laki-laki ataupun perempuan.
Perempuan, jadilah bahagia.. Anda berhak..
Rabu, Agustus 19, 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar