Senin, Agustus 17, 2015

Tidak Perlu Cerdas untuk Memahami..

Di TL Twitter saya hari ini rame dengan topik Parade Tauhid. Maklum awam, kagak ngarti dong.. Baca berita online, dan paham. Ternyata.. Ok, terlepas dari motivasi baik dibaliknya, saya hanya ingin bilang bahwa:

Islam itu damai, kan yaaak? Wajah islam yang damai ini yang harusnya ditunjukkan, bukan islam yang marah, penuh kebencian dan mudah mengkafirkan. Dalam pemahaman keislaman saya yang sederhana, menjadi resah jika wajah Islam yang tampil kemudian adalah yang penuh permusuhan, dimana perbedaan dianggap sebagai dosa. Padahal sejatinya setiap individu itu berbeda, Tuhan mendesain demikian bukan tanpa makna. Bagaimana mungkin manusia mengharapkan keseragaman?

Pada satu waktu sekitar 2004, ketika masih bekerja di satu rumah sakit di Bandung, mendapat sebuah pembelajaran hidup luar biasa dari dua individu berbeda. Satu individu menampilkan wajah islami yang kental -dimana subhanalloh, Allohu Akbar, antum, ihkwan, dan Bahasa Arab lain kerap keluar. Pribadi tersebut juga kerap mengimani sholat, jadi khatib dan ibadah lainnya, bahkan konon katanya juga jadi ketua ranting satu partai islam yang itu. Kita sebut saja orang ini sebagai pokoknya-islam-banget-deh. Pribadi lain adalah Mba Vera, dan Mba Vera bukan muslim. Saya tidak tau bagaimana Mba Vera dengan agamanya, untuk ini, saya tidak punya kapasitas untuk menyampaikan opini. Tetapi, yang pasti saya menaruh hormat yang sedemikian tinggi ke Mba Vera dibanding dengan yang pokoknya-islam-banget-deh. Kenapa? karena Mba Vera tidak pernah datang terlambat saat pergantian shift, tidak dengan enteng bilang "saya tidur duluan" saat shift malam dan baru bangun setelah pagi dimana pekerjaan padat sudah berlalu, tidak juga bekerja santai dan malas-malasan.

Menurut saya, beragama itu perihal kita dengan Tuhan kita, personal, individual. Mengajak pada kebaikan, harus.. Tetapi memaksakannya adalah tidak bijaksana, tidak simpatik.

Apalah saya sampai ngomong begini yaaa..(?)

Tidak ada komentar: