Sahabat saya, sebut saja Kak Mona, dia mengalami sakit pinggang parah. Berobat disini ke beberapa ahli di rumah sakit besar di Jakarta, singkat cerita, hasilnya disimpulkan bahwa salah satu ginjalnya harus diangkat. Sebelum memutuskan untuk benar-benar diangkat, dia meminta opini dokter lain disebuah rumah sakit di Singapura. Mengejutkan, karena disana dia hanya disarankan melakukan aktivitas renang setiap hari. Hasilnya? dalam dua bulan, keluhan hilang dan sekarang sangat produktif.
Pengalaman pribadi, setelah lelah sekitar 7 bulan didera dengan vertigo parah -berobat, konsul berbagai dokter, berganti obat juga tidak kunjung membaik, akhirnya saya memutuskan untuk berobat ke Sg, ke sebuah rumah sakit rekomendasi guru saya, Prof. AG, di Kent-Ridge. Setelah anamnesa dan pemeriksaan lain-lain, disimpulkan bahwa vertigo tersebut karena antibiotik yang saya minum yang menganggu sistem vestibular (keseimbangan) yang beberapa bulan sebelumnya memang saya konsumsi. Tidak ada obat yang dapat memperbaiki kondisi ini, saya diharuskan melakukan terapi vestibular. Melakukan terapi selama seminggu disana, melanjutkan terapi disini, dan sekarang kondisi membaik.
Lain lagi cerita kerabat saya, dia didiagnosa menderita kanker kelenjar stadium IV oleh dokter onkologinya di Bandung. Dengan alasan sederhana, yaitu penasaran, memutuskan juga berobat ke Sg. Dan mendapati bahwa sebenarnya itu bukan kanker tetapi TBC kelenjar (klo tidak salah), diharuskan berobat rutin setiap dua bulan. Dan sekarang setelah satu tahun, sudah fit dan sudah giat dengan hobby tamiya-nya lagi.
Tiga dari banyak kejadian yang saya dengar, saya baca dan saya alami, membuat saya merenung dan menyadari ada yang salah, sesuatu yang sangat sistemik, dengan kita?. Betapa nelangsanya jadi orang Indonesia, harus jauh-jauh dan menghabiskan sumber daya (dana, tenaga, waktu dll) di negeri orang untuk sekedar mendapatkan hak atas pelayanan kesehatan yang memadai, hak dasar yang semestinya terpenuhi. Tidak berlebihan jika ada anggapan bahwa di Indonesia, pasien masih belum dianggap sebagai mitra, melainkan masih sebatas obyek eksploitasi.
Ironis memang. Industri kesehatan yang semestinya penuh dengan motif altruism dan kemanusiaan, menjadi sangat berorientasi kepada bisnis sehingga kepentingan dan kesejahteraan pasien menjadi tidak lagi prioritas.
Konsumen dilain pihak, khas dalam industri pelayanan kesehatan, dihadapkan pada kondisi asymetric information dimana pemberi pelayanan cenderung mendominasi keputusan perawatan dan pasien cenderung mengikuti dan mempercayakan perawatan kesehatannya. Hak pasien untuk mengakses pilihan perawatan juga terbatas (atau sengaja dibatasi?).
Pekerjaan rumah kita banyak.. Dan kita sudah 70 tahun merdeka. Dirgahayu..!
Selasa, Agustus 18, 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar