
Saya bukan tipe Mama yang menghabiskan sebagian besar dari 24 jam dalam sehari saya dengan anak. Kebersamaan kami terhalang rutinitas jam kantor, jam sekolah dan jam kunjungan ke Aki dan Enin. Tetapi Kami biasa bercerita, nonton, heureuy bahkan marah-marahan di saat sore sampai waktu tidur dan kemudian di pagi hari sebelum aktivitas harian rutin berjalan.
Saya juga bukan tipe Mama yang bisa nungguin Aa sekolah atau nungguin Teteh les dan mengisi waktu menunggu tersebut dengan mengobrol, bergosip dan jalan-jalan dengan Mama POMG lain. Kadang ingin juga seperti itu, mungkin enak juga jadi Ibu Rumah Tangga yang mendedikasikan seluruh waktu untuk keluarga dan anak. Hmmm.. tapi pasti itu bukan pilihan saya..
Saya pernah menjadi perempuan rumah tangga, berusaha menjadi yang terbaik di dalamnya, tetapi kemudian, atas kesadaran bahwa saya bisa mengambil bagian lebih dari perempuan rumah tangga, saya memutuskan untuk keluar dan mengaktualisasikan diri.. saya punya mimpi, punya cita, butuh pengakuan, butuh penghargaan.. dan sekarang, inilah saya.. masih belum menjadi siapa-siapa memang, tapi setidaknya saya mampu mandiri (financially n emotionally), karena bergantung dengan yang lain itu sangat tidak menyenangkan.. menjadikan kita seakan tidak punya posisi tawar yang sepadan.
Ya, saya salut dengan perempuan yang memilih menjadi perempuan rumah tangga.. tapi jika itu ditawarkan kepada saya, jawabannya pasti “No, thanks..!”
Tidak juga ingin berdebat kusir tentang mana yang lebih mulia, hanya berusaha menjalani keharusan hidup saya. Jelas saya harus bekerja.. ya, HARUS.. ini pilihan mulia saya..
Pilihan ini membawa konsekwensi pada minimnya waktu yang bisa saya habiskan dengan anak-anak. berharap pilihan ini yang terbaik untuk saya, Teteh n Aa..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar